Rabu, 05 April 2017

Hubbi Sayyidina Muhammad SAW

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..

اللهم صَلِّ عَلىٰ مُحَمَّدْ يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
Ya Allah, limpahkanlah rahmat ta’dhim atas Muhammad saw. Wahai tuhanku, limpahkanlah rahmat ta’dhim dan keselamatan atas Muhammad saw.

فِى حـُبِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ نُوْرٌلِبَدْرِ هـُدًى مُتَمَّمْ
Dalam mencintai junjungan Muhammad saw terdapat cahaya laksana rembulan sebagai petunjuk yang sempurna.

قَلْبِىْ يَحِنُّ اِلَى مُحَمَّدْ مَا زَالَ فِى وَلَهٍ مُتَيَّمْ
Hatiku rindu kepada Muhammad saw selama hatiku berada dalam kegelisahan.

مَالِىْ حـَبِيْبٌ سِوَى مُحَمَّدْ خـَيْرُ الرُّسُلِ طَهَ الْمُكَرَّمْ
Tiada cinta dalam diriku, selain cinta kepada Muhammad saw. Ia paling mulianya utusan yang dimuliakan.

شَوْقُ الْمُحِبِّ اِلَى مُحَمَّدْ أَضْنَاهُ ثُمَّ بِهِ تَأَ لَّمْ
Gelora rindu orang yang mencintai Muhammad saw selalu tertuju padanya lalu karenanya akan mendapat syafa’at.

فِى الْحَشْرِ شَافِعُنَا مُحَمَّدْ مُنْجِى الْخَلَا ئِقِ مِنْ جـَهَنَّمْ
Ketika di padang mahsyar, Muhammad saw adalah penyelamat makhluk dari neraka Jahanam.

مِيْلَادُ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ أُمُّ اْلقُرَى بَلَدٌ مُعَظَّمْ
Tempat lahir junjungan kita Muhammad saw adalah tempat suci di negeri yang dimuliakan.

مَدْفَانُ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ طَيْبُ اْلقُرَى بَلَدٌ مُفَخَّمْ
Tempat di semayamkannya junjungan kita Muhammad saw adalah tempat suci di negeri yang dimuliakan.

أَحـْيَا الدُّجَى زَمَنًا مُحَمَّدْ حـَتَّى اشْتَكَتْ قَدَمٌ مُوَرَّمْ
Muhammad saw adalah penerang zaman kegelapan. Hingga orang-orang yang pemberani dan gagah perkasa mengaduh padanya.

لَمَّا عَلَا وَدَنَا مُحَمَّدْ مَوْلَاهُ سَلَّمَهُ وَكَلَّمْ
Ketika Muhammad saw berada dalam kemuliaan dan kedekatan dengan Tuhannya. Maka Tuhan memberikan rahmat ta’dhim dan menyapanya.

نَدْعُوْكَ أَحْمَدُ يا مُحَمَّدْ يَا سَيِّدَ الرُّسُلِ الْمُقَدَّمْ
Kami memanggilmu dengan sebutan Ahmad wahai Muhammad saw. Wahai pemimpin para utusan yang terdahulu.

إِشْفَعْ اِلَى اللهِ يَا مُحَمَّدْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ لَنَا نُنَعَّمْ
Mohonkanlah syafa’at untuk kami kepada Allah wahai Muhammad saw dihari qiyamat agar kami bisa merasakan nikmat.

نَرْجـُوْ الشَّفَاعَةَ مِنْ مُحَمَّدْ لَوْ كُنَّا نَرْتَكِبُ الْمُحَرَّمْ
Kami berharap syafa’at dari Muhammad saw bila kami melakukan hal-hal yang diharamkan.

مَنْجَا وَمَلْجَأُنَا مُحَمَّدْ يَوْمَ الْهَوَانِ بِهِ تَحَشَّمْ
Tempat aku berharap dan berlindung adalah Muhammad saw, di hari kehinaan di mana orang-orang menjadi malu.

وَالنُّوْرُ جـآءَ بِهِ مُحَمَّدْ وَالْحَقُّ بُيِّنَ إِنْ تَكَلَّمْ
Muhammad saw datang dengan bergelimang cahaya dan kebenaran menjadi nyata untuk diperbincangkan.

أَعْلَى السَّمَاءِ سَمَا مُحَمَّدْ جـِبْرِيْلُ قَالَ لَهُ تَقَدَّمْ
Tingkat yang paling tinggi adalah tingkatan Muhammad saw. Karena Jibril mempersilahkan kepadanya untuk menjadi yang terdepan.

وَالْجُنْدُ حـِيْنَ غَزَا مُحَمَّدْ مِنْهُمْ مَلآ ئِكَةٌ تُسَوَّمْ
Ketika Muhammad saw berperang. Ternyata sebagian pasukannya terdiri dari malaikat yang diperuntukkan berperang.

وَالدِّيْنَ أَظْهَرَهُ مُحَمَّدْ وَاْلكُفْرَ أَبْطَلَهُ فَهَدَّمْ
Muhammad saw menyucikan agama dan Muhammad saw menghapus kekufuran.

أَعْمَارُ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ سِتُّوْنَ جـِيْمٍ مِنْ مُعَوَّمْ
Usia junjungan kita Muhammad saw adalah enam puluhanan tahun.

صَلَّى اْلإِلَهُ عَلَى م مُحَمَّدْ وَاْلأَ لِ كُلِّهِمْ وَسَلَّمْ
Semoga Allah memberikan rahmat ta’dhim kepada Muhammad saw. Serta seluruh keluarganya dan semoga Allah memberi keselamatan.

صَلَّى اْلإِلَهُ عَلَى م مُحَمَّدْ وَالصَّحْبِ كُلِّهِمْ وَسَلَّمْ
Semoga Allah memberi rahmat ta’dhim kepada Muhammad saw. serta seluruh sahabatnya dan  semoga Allah memberi keselamatan.

Senin, 03 April 2017

Perkara yang Mencukupi :

مَنْ أَرَادَ وَلِيًّا فاللهُ يَكْفِيْهِ

وَمَنْ أَرَادَ قُدْوَةً فَالرَّسُوْلُ يَكْفِيْه

وَمَنْ أَرَادَ هُدًى فَالْقُرْآنُ يَكْفِيْهِ

وَمَنْ أَرَادَ مَوْعِظَةً فَالْمَوْتُ يَكْفِيْهِ

وَمَنْ لاَ يَكْفِيْهِ ذَلِكَ فَالنَّارُ يَكْفِيْهِ

------------------------------------------------------------------

Barangsiapa yang menginginkan pelindung, maka Allah cukup baginya.

Barangsiapa yang menginginkan teladan, maka Rasulullah cukup baginya.

Barangsiapa yang menginginkan pedoman hidup, maka al-Qur’an cukup baginya.

Barangsiapa yang menginginkan peringatan maka kematian cukup baginya.

Dan barangsiapa tidak cukup dengan semua itu, maka neraka cukup baginya.

Sabtu, 01 April 2017

Jangan Pandang Manusia (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani) | Suluk

Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata :

Dunia adalah penghalang dari akhirat, dan akhirat adalah penghalang dari Tuhan Pengatur dunia dan akhirat. Setiap makhluk adalah hijab dari Sang Pencipta Azza wa Jalla. Sekalipun engkau berdiri bersama-Nya, Dia tetap terhijab (tersekat) denganmu. Jangan menoleh pada manusia, juga pada dunia, dan apapun selain Al-Haqq Azza wa Jalla sebelum engkau sampai ke pintu Al-Haqq Azza wa Jalla dengan kaki nuranimu dan kesahihan zuhudmu akan selain-Nya, sambil berlepas dari segala hal, bingung di dalamnya, meminta pertolongan dan sokongan pada-Nya, seraya memperhatikan ketetapan terdahulu (preseden) dan ilmu-Nya. Jika memang hati dan nurani telah benar-benar sampai dan masuk menghadap-Nya, lalu Dia menghampirimu dan mendekatkanmu pada-Nya sambil memberi ucapan selamat, kemudian memberi kuasa padamu untuk menguasai hati manusia, memerikan otoritas perintah-Nya padamu atas mereka (hati manusia), dan menjadikanmu sebagai tabib penyembuh mereka, maka saat itulah engkau boleh menengok pada manusia dan dunia. Perhatianmu pada mereka merupakan nikmat tersendiri bagi mereka.

Dalam posisi sifat seperti ini, memungut harta dunia dari tangan mereka, lalu menyerahkannya pada orang-orang fakir serta mengambil penuh bagian rezekimu merupakan ibadah, ketaatan, dan keselamatan. Barangsiapa memungut dunia dengan posisi sifat seperti ini, maka hal itu tidak memberinya mudarat, bahkan sebaliknya malah menyelamatkan dan membersihkannya dari daki kotoran-kotorannya.

Barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan, maka ia harus mencurahkan diri dan hartanya untuk Al-Haqq Azza wa Jalla dan harus keluar lepas dari ikatan manusia dan dunia dengan segenap hatinya, sebagaimana keluarnya rambut dari adonan dan susu. Begitu pula ia harus lepas dari akhirat, dan apa saja selain Al-Haqq Azza wa Jalla. Ketika itulah, di hadapan-Nya setiap hak akan diberikan pada yang berhak. Engkau boleh makan bagian rezekimu dari dunia dan akhirat sambil duduk di pintu-Nya, sementara keduanya berdiri melayani.

Kaum wali tahu bahwa dunia telah ditentukan bagiannya, sehingga mereka pun enggan mencarinya. Mereka tahu bahwa derajat akhirat dan kenikmatan surga telah ditentukan bagiannya, maka mereka pun tidak mau menuntutnya demi meraihnya. Mereka tidak menginginkan apa-apa selain Wajah Al-Haqq Azza wa Jalla. Jika masuk surga, mereka tidak akan membuka matanya, hingga mereka melihat cahaya Wajah Al-Haqq Azza wa Jalla.

Gemarilah menyepi (tajrid) dan menyendiri (tafrid). Barangsiapa yang hatinya sepi (kosong melompong) dari (kaitan) manusia dan sarana duniawi (al-asbab), maka ia tetap tidak akan bisa menempuh kesungguhan para nabi, kaum shiddiqin, dan kaum shalih, hingga ia puas hati menerima sedikit dunia dan menyerahkan sebagian besarnya pada tangan takdir. Jangan menuntut bagian yang melimpah, niscaya engkau akan binasa. Jika memang datang harta yang melimpah dari Al-Haqq Azza wa Jalla tanpa engkau berikhtiar mencarinya, maka engkau benar-benar beruntung.

(*Sumber : Rahasia Mencintai Allah, Jalan Sejati Menuju Sang Khalik, Syaikh Abdul Qadir Jailani, buku ke-1 dari Buku Trilogi Rahasia Sufi Agung, 2011)

Halangan Rintangan dalam Suluk : Condong kepada Makhluk | Penghalang Suluk : Makhluk

Ada sejumlah rintangan (dalam suluk), yang terbesar di antaranya adalah bergantung pada makhluk dan merasa condong kepada mereka.
[ Syaikh Abdul Khaliq al-Syabrawi ]

Bagaimana orang yang bergaul dan melakukan satu sama lain, yaitu berbincang, bersenda gurau, tertawa, dan sebagainya, dapat berharap tiba di tempat yang dituju?

Jika engkau mengharapkan derajat mulia, tinggalkan makhluk dan PUSATKAN PERHATIAN kepada ALLAH.

Jika engkau tidak sejalan dengan apa yang baru saja dijelaskan, maka waktumu akan sia-sia dan engkau tidak akan mencapai apa yang engkau inginkan.

Bersungguh-sungguhlah dan tekunlah. Jangan isi dirimu dengan hal-hal yang sepele dan ucapan yang tak berfaedah.

(*Sumber : The Degrees of the Self/ Maratib al-Nafs, Syaikh Abdul Khaliq al-Syabrawi)

Perkataan Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi di bawah ini baik untuk dijadikan pegangan :

Terpenting, dari apa yang engkau butuhkan adalah akhlak mulia, karakter dan perilaku yang tepat benar; kau harus mengidentifikasi bagian dirimu yang buruk dan menghilangkan keburukan itu. Hubunganmu dengan siapapun harus berdasarkan akhlak mulia yang disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tipe kebutuhan tiap orang.

Barangsiapa yang menolak satu poin dari akhlak mulia, itu berarti dia masih memiliki karakter buruk. Setiap manusia diciptakan berbeda satu dengan lainnya. Level tiap orang berbeda. Karakter dan perilaku baik juga memiliki level yang berbeda. Perilaku bukanlah sebuah bentuk. Bukan juga dijalankan dalam cara yang sama pada setiap keadaan kepada setiap orang. Berperilakulah sesuai situasi dan kondisi, dan sesuai tipe kebutuhan orang dalam hubunganmu dengan seseorang atau kelompok. Perilaku baik itu adalah jika perilaku itu membawa kepada jalan keselamatan, kebenaran, kenyamanan, kedamaian, ketenangan, memberikan perlindungan, tiada menyakitkan lahir bathin dan tiada menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain, bagi diri pribadi, dan sebisa mungkin bagi banyak orang, dimana dilakukan semata mengharapkan keridhoan Allah.

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat shaleh maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang zalim. (QS.42:40)

Tunjukkan cinta, kasih sayang, kepekaan/ empati/ simpati, kemurahan hati, dan perlindungan kepada orang-orang yang berada dalam tanggunganmu. Jika engkau mengharapkan cinta kasih sayang Allah dan perlindungan-Nya, ingatlah bahwa sepenuhnya engkau bergantung kepada-Nya Al-Ahad, Tuhan dan Pemilik jagat raya dan seisinya.

Uzlah Hati

Ibnu Athaillah r.a mengingatkan bahwa yang dikehendaki adalah sebagian uzlah, bukan menjadikan uzlah sebagai jalan hidup sehingga seseorang menghindari masyarakat dan menjauhkan diri dari dunia. Sebab, fitrah manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial.

Tidak ada yang bisa memberikan manfaat kepada hati seperti uzlah, karena uzlah dapat membersihkan hati dari kelalaian. Uzlah bisa dilakukan dengan melibatkan hati dan tubuh, yaitu dengan menjauh dari makhluk.

Uzlah bisa dilakukan pula hanya dengan hati, yaitu tetap bergaul  dengan manusia sementara hati tetap bersama Allah. Karena itu ada ungkapan berbunyi : Hendaklah lahiriahmu bersama makhluk, tetapi jiwamu bersama Allah.

Uzlah yang dimaksud oleh Ibnu Athaillah r.a adalah uzlah dalam pengertian yang pertama. Sebab, hati biasanya hanya bisa menyendiri jika pemiliknya menjauh atau berada jauh dari makhluk.

Manfaat uzlah bagi hati dengan menjauh dari manusia untuk bertafakur adalah seperti manfaat diet bagi kesehatan tubuh orang yang sakit. Keadaan hati juga seperti itu. Hati akan menjadi sehat dan bagus jika sesekali ia menjalani diet dengan menjauh dari makhluk sehingga terbebas dari lintasan pikiran, bisikan, dan kelalaian yang menguasai dirinya dan yang bisa menjadi sebab kematian hatinya. Hati menjadi lapang dan tubuh menjadi lebih tenang. Sebab, pergaulan dengan banyak orang bisa jadi akan membuat kita merasa lelah, bosan, penat, dan sering kali pikiran kita pun lelah karena banyak memperhatikan urusan manusia. Tubuh juga kerap merasa penat karena banyak berusaha memenuhi kebutuhan diri dan keinginan sebagian mereka. Meskipun apa yang kita lakukan untuk orang lain akan mendatangkan pahala untuk kita, tetapi kita juga kehilangan sesuatu yang lebih agung dan penting, yaitu menyatunya hati di hadapan Tuhan.

Selama uzlah, hamba bisa membaca kitabullah, memikirkan untuk apakah selama ini usianya dihabiskan, merenungkan kelalaiannya kepada Tuhan, serta memikirkan seperti apakah tempat kembalinya di hari akhir. Jadi, uzlah tidak dijalani dengan melakukan sesuatu yang terlarang, misalnya merenungkan sesuatu yang haram atau membaca bacaan yang penuh dengan tipudaya dan khurafat.

Rasulullah Saw sendiri memberi kita contoh betapa beliau suka berkhalwat dan bertafakur demi mendapatkan pemahaman mengenai kaumnya dan juga alam semesta pada masanya. Secara lebih khusus, beliau banyak menyendiri menjelang Allah mengangkatnya sebagai Nabi dan Rasul. Beliau beribadah selama beberapa malam di Gua Hira hingga akhirnya turun wahyu dari Allah. Rasulullah Saw masih suka berkhalwat sesudah beliau diangkat sebagai nabi, yaitu ketika beliau diperintah mendirikan shalat malam.

(*Sumber : Taj al-Arus al-Hawi li Tahdzib al-Nufus, 2011; (Tajul Arus, 2013)

Uzlah bag 2

Hal yang mendorong kepada UZLAH ialah karena manusia itu kebanyakan dapat merusak ibadah yang engkau telah hasilkan dengan ajakan-ajakan yang menarik kepada riya dan hiasan jika tidak ada perlindungan dari Allah SWT.

Diceritakan bahwa Harim Ibnu Hayan berkata kepada Uwais Al-Qarni : Ya Uwais, silahkan engkau datang bertamu dan berjumpa.
Jawab Uwais : Aku sudah bersilaturahmi denganmu dengan jalan yang lebih bermanfaat dari keduanya itu, yaitu doa dari jauh. Karena bertamu dan berjumpa itu melahirkan hiasan dan riya.

Jika seseorang tidak ingin ada hubungan dengan orang lain, maka jangan mencampuri salah satu urusan mereka apapun juga. Mulai dari urusan agama atau dunia.

Bergaul dengan masyarakat memerlukan dua perkara penting :

1] Kesabaran yang terus menerus atas segala penderitaan yang didapat dari pergaulan.

2] Hendaknya dapat menyendiri dalam hati walaupun jasadnya bergaul dengan orang-orang lain :

Jika mereka bicara dengan baik, hendaknya dibalas dengan setimpal. Jika mereka bertamu hendaknya dihormati menurut tingkatan dan disyukuri. Jika mereka diam dan berpaling, maka ambil faedah dari diamnya mereka. Jika mereka mengerjakan yang haq dan kebaikan, maka bantu mereka. Jika mereka mengerjakan hal-hal yang tidak berfaedah atau melakukan kejahatan,  jauhi mereka dan larang mereka jika sekiranya mereka menerima. Tunaikan hak-hak yang lazim untuk tetamu dan untuk berkunjung, tanpa meminta dan mengharapkan balasan dari mereka. Dan jangan memperlihatkan muka kecut terhadap mereka. Jika dapat, perbanyaklah menolong mereka. Jika mereka memberi hendaknya jangan bernafsu menerimanya. Dan hendaklah kuat menanggung akibat dari sikap mereka. Dan selalu menampakkan muka manis terhadap mereka dan menyembunyikan kebutuhan diri dari mereka.

Orang-orang yang UZLAH mesti tetap bergaul dalam hal-hal kebaikan dan menjauhi dalam hal-hal yang lain karena di dalamnya terkandung beberapa bahaya.

Yang memudahkan untuk ber-uzlah itu ada tiga macam :

1] Menghabiskan waktu dalam beribadah.

Sehingga engkau tidak menjadi asyik dengan makhluk di mana hal itu pertanda engkau pailit.

Jika engkau asyik beribadah sebagaimana mestinya, tentu akan merasakan manisnya ber-munajat kepada Allah. Dan engkau  akan merasa senang dan gembira sekali dengan Al-Qur’an atau kitab-kitab agama lainnya. Sehingga kesibukan itu akan memalingkan engkau dari makhluk.

2] Memutuskan hubungan dari manusia sama sekali.

Dalam arti kata, engkau tidak terikat. Karena setiap orang yang tidak engkau harapkan manfaat daripadanya dan tidak khawatir apa-apa olehnya, maka ada dan tiadanya sama saja.

3] Mengamat-amati akan bahaya yang disebabkan oleh makhluk.

Bahaya seperti pergunjingan, hasud, dengki, dan sebagainya.

Bila bertamu kepada saudara-saudara seagama dan menghubungi sahabat-sahabat untuk saling bertemu dan saling memperingati, berlaku dua syarat :

1] Jangan berlebih-lebihan dan jangan sering-sering.

Rasulullah Saw bersabda: Bertamulah engkau pada waktu tertentu saja, nanti akan bertambah cinta.

2] Dalam bertamu perlu mematuhi yang haq. Dengan menjauhi riya, atau kelakuan yang dibuat-buat, atau berkata yang tidak karuan, bergunjing, dan sebagainya.

(*Sumber : Minhajul Abidin, Imam Al-Ghazali; Penerjemah : K.H. Abdullah bin Nuh)

Uzlah bag 1

UZLAH : Menyendiri, bukan semata-mata menjauhkan diri dan tempat. Tetapi menyendiri dalam hati walaupun jasadnya bergaul dengan orang lain. Uzlah dari manusia adalah dengan jalan tidak mencampuri, tidak ikut dan tidak memasuki urusan-urusan mereka. Adapun dapat bersama mereka dalam mengerjakan shalat berjamaah dan memperbanyak syiar Islam.

Ibrahim bin Adham mengatakan : Menyendirilah engkau sambil berkumpul. Sambil merasa tenteram dengan Tuhanmu. Namun merasa kesepian dengan manusia.

Karna sebagian besar dari makhluk (manusia) itu membimbangkanmu untuk beribadah. Bahkan terkadang menghalangimu dan membawamu ke jalan kejahatan dan kebinasaan. Karena kebanyakan mereka itu tidak mengetahui hak-hak keTuhanan, tapi hanya mengetahui hak-hak kehambaan. Dan hanya mengetahui lahirnya kehidupan dunia saja. Untuk akhirat, mereka lalai tidak memikirkannya.

Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Amr bin al’Ash r.a, beliau berkata :
Di kala kami berkumpul di hadapan Rasulullah Saw dan diceritakan tentang adanya godaan-godaan (fitnah), maka Nabi Saw bersabda : Di mana kamu telah melihat manusia merusak janjinya, dan sedikit amanatnya. Dan mereka sudah menjadi demikian. Nabi Saw kemudian memberi isyarat seraya menjalinkan jari-jari tangannya, sebagai isyarat campur aduknya kebaikan dan kejahatan).

Aku bertanya : Jika sudah demikian, kami harus bagaimana ya Rasulullah?

Jawab Rasulullah : Maka kamu harus menetap di rumah. Kuasai lidahmu. Ambillah apa yang kau ketahui baik, dan tinggalkan apa yang tidak engkau kenal. Dan perbaiki khusus dirimu serta tinggalkan urusan umum. (Hadits shahih)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw telah mengatakan tentang zaman fitnah.

Ibnu Mas’ud bertanya kepada Rasulullah Saw : Apakah itu?

Sabda Rasulullah Saw : ialah bila seseorang sudah tidak merasa aman dari kejahatan temannya sendiri, apalagi dari orang lain.

Dari Sofyan bin ‘Uyainah yang mengatakan sebagai berikut : Saya telah katakan kepada Tsauri : ‘Berilah saya wasiat.

Jawabnya : Kurangi pergaulanmu dengan orang lain!

Kata saya : Bukankah telah diterangkan dalam hadits bahwa kita disuruh banyak berkenalan seperti bunyi hadits yang diterangkan Hakim dari Sayyidina Anas r.a : Perbanyaklah berkenalan dengan orang-orang mukmin, karena bagi tiap mukmin ada syafaat nanti di hari Qiyamah.

Jawab Ats-Tsaury : Ya, tapi engkau tidak akan menemui kekecewaan kecuali dari orang-orang yang engkau kenal.

Kata Ibnu Uyainah bahwa pada pintu rumah Ats-Tsaury ada tulisan : Terima kasih, semoga Allah membalas kebaikan kepada orang-orang yang tidak kami kenal. Tapi terima kasih ini tidak kami ucapkan pada teman-teman kami. Lantaran gangguan-gangguan itu sering datangnya dari mereka.

Dari Abu Ubaidah : Aku belum pernah melihat seorang yang bijaksana melainkan pada akhir katanya mengucapkan; Jika kau menyukai agar dirimu tidak terkenal di antara manusia, maka kau akan mendapat kedudukan yang tinggi dari Allah.

Sabtu, 18 Maret 2017

DAJJAL itu?

DAJJAL

Dajjal dalam bahasa Arab berarti pendusta, pembohong dan penipu. Ada dua penafsiran tentang dajjal. Pertama, dajjal adalah sosok manusia yang berasal dari keluarga penyembah berhala. Berhala itu adalah syaitan durjana yang menyerupakan dirinya dengan patung Lembu betina.

Rasulullah saw menggambarkan keluarga dajjâl sebagai berikut: “Ayahnya tinggi, gemuk, dan hidungnya seperti paruh burung. Ibunya fardakhiyah, banyak dagingnya karena gemuk badannya”. (H.R. Imam Ahmad).

Menurut hadis Rasulullah saw dajjâl lahir dari seorang perempuan yang dilahirkan dari perbuatan zina antara mahram dengan seorang laki-laki yang juga dilahirkan dari perbuatan zina antar mahram. Ketika mereka melakukan persetubuhan, syaitan ikut mencampuri menyetubuhi perempuan penyembah berhala itu. Lalu, lahirlah seorang laki-laki. Itulah dajjâl, yang selalu mendatangkan fitnah, yakni bahaya bagi orang banyak.

Kedua, dajjâl adalah sebutan bagi siapa saja yang banyak berbohong, menipu dan melakukan kerusakan di bumi. Dajjâl adalah sifat atau karakter manusia yang busuk, yaitu berbohong, menipu dan berbuat kerusakan di bumi. Dajjâl disebut sebagai pelaku fitnah terbesar dalam kehidupan manusia, karena kehadiran dajjâl, selalu menimbulkan bencana bagi manusia. Ia mampu menunjukkan peristiwa luar biasa, dan menunjukkan keanehan yang dapat menipu daya hati-hati dan fikiran manusia.

Dajjâl sangat pakar dan ahli memutar balikan keburukan seakan-akan kebaikan, dan memutar balikan kebenaran seakan-akan kebatilan. Dajjâl sangat teliti dan pakar dalam menyesatkan manusia dengan berbagai cara yang berpangkal pada kebohongan dan penipuan.

Rasulullah saw membimbing manusia supaya mewaspadai fitnah al-kubrâ, bencana dahsyat, dalam kehidupan yang dilancarkan dajjâl dengan doa yang dibaca di dalam solat sebelum salam.

“Allahumma inni a’udzubika mina ‘adzabil qabri wa min ‘adzabin nar; wa min fitnatil mahya wal mamati wa min fitnatil mashid dajjal”. (Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur dan azab neraka; dari malapetaka kehidupan dan kematian; dari terkena bencana besar yang dilakukan dajjâl”).

Bencana besar yang ditawarkan dajjâl adalah mengubah moral manusia menjadi hamba harta, tahta dan wanita dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kepuasan, kelazatan dan kenikmatan seksual dan bermacam-macam lagi fitnah yang tak terfikirkan . Pada gilirannya perubahan mentaliti itu berdampak pada perubahan keyakinan agama dengan memutarbalikan kebenaran Al-Qur`an. Oleh karena itu, kehadiran dajjâl dalam kehidupan pribadi dan masyarakat layak menjadi perhatian orang-orang beriman.

(Semoga tulisan ini dapat bermanfaat).. Barakallah

Kamis, 16 Maret 2017

Syair Cinta

Palingkanlah hatimu kepada siapa saja yang kau cinta..
tidaklah cinta kecuali kembali kepada cinta yang pertama..

Janganlah kau berdusta atas nama cinta..
lalu kau lampiaskan cinta dengan syahwatmu..

Jagalah hati dengan cinta-Nya, karena betapapun kita memalingkan hati, hanya kepada-Nya lah kita kembali dan hanya Ia lah cinta-Nya abadi..

Kecantikan yang mempesonamu apalah artinya jika hanya menyesatkanmu..
jangan tertipu dengan bisik godaannya, betapa banyak orang yang mengaku patah hati padahal cinta belum lah halal baginya..
lalu merenunglah ia dan menangisinya..
sudikah ia menangisi maksiatnya karena enggan menjauh darinya??

Sesungguhnya cinta hakiki membawa kepada kebahagiaan abadi..
raihlah cinta yang berpahala, cinta yang suci di atas perjanjian yang kuat..
Ia menggambarkannya sebagai "Mitsaqon Gholidzho"

Rabu, 15 Maret 2017

Menulis..

Terkadang sebagian dari kita mengeluhkan seringnya lupa beberapa ilmu yang telah dipelajari atau susah mengingat. Maka ini solusi dari Al-Quran.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

قلنا: نعم له دواء ـ بفضل الله ـ وهي الكتابة، ولهذا امتن الله عز وجل على عباده بها فقال: {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ الإِنسَـنَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الاَْكْرَمُ * الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ}. (العق: 1 ـ 4). فقال (اقرأ) ثم قال: {الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ } يعني اقرأ من حفظك، فإن لم يكن فمن قلمك، فالله تبارك وتعالى بين لنا كيف نداوي هذه العلة، وهي علة النسيان وذلك بأن نداويها بالكتابة، والان أصبحت الكتابة أدقُّ من الأول، لأنه وجد ـ بحمد الله ـ الان المسجِّل

kita katakan, iya. Lupa ada obatnya dengan karunia dari Allah yaitu menulisnya. Karenanya Allah memberi karunia kepada hamba-Nya dengan surat Al-Alaq. Yaitu "iqra" kemudian "mengajarkan dengan perantara pena". Maksudnya, bacalah dengan hapalannya, jika tidak hapal maka dengan tulisanmu.

Allah Tabaraka Ta’ala menjelaskan kepada kita bagaimana mengobati penyakit ini yaitu penyakit lupa dan kita obati dengan menulis. Dan sekarang menulis lebih mudah dibanding dahulu karena mudah didapatkan dan segala puji bagi Allah, sekarang bisa direkam.

Mengikat ilmu dengan menulis :

Daya ingat manusia terbatas, oleh karenanya ilmu perlu diikat dengan tulisan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

Ikatlah ilmu dengan menulisnya

Bahkan beliau memerintahkan sebagian sahabatnya agar menulis ilmu. Salah satunya adalah Abdullah bin ‘Amru. Beliau bersabda kepadanya,

اكْتُبْ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا خَرَجَ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ

Tulislah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidaklah keluar darinya melainkan kebenaran

Imam Syafi’I rahimahullah berkata,

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ

فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya, ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.

Sampai-sampai Asy-sya’bi rahimahullah berkata,

إِذَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَاكْتُبْهُ وَلَوْ فِي الْحَائِطِ

Apabila engkau mendengar sesuatu ilmu, maka tulislah meskipun pada dinding



Dan ikatlah dengan amal :

Sebagian lagi mengatakan bahwa di zaman seperti sekarang ini.

قيد العلم بالعمل

Ikatlah ilmu dengan mengamalkannya

Ilmu lebih layak diikat dengan amal karena ilmu yang telah diikat dikitab-kitab telah banyak dilupakan.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam..

(Semoga tulisan ini dapat bermanfaat).. Barakallah

Senin, 27 Februari 2017

Cinta

KETIKA ULAMA BICARA CINTA

Paling tidak, ada 3 tokoh besar Islam lintas zaman yang membuat karangan tentang cinta menurut persfektif masing-masing. Yang pertama adalah Imam Al-Ghazali. Dalam kitab Al-Mahabbahnya, beliau mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki level yang tinggi.

"(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya." (QS. 5: 54).
Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah).

Yang kedua adalah Imam Ibn Hazm Al-Andalusi Az-Zhohiri. Buku Tauqul Hamamah -nya (Thauq al- Hamamah fî al-Ulfah wa al-Ulâf) menyorot tentang cinta antara manusia dengan pandangan yang realistis. Sangat kontras dengan Al-Mahabbah versi Imam Al-Ghazali yang lebih menyorot konsep cinta manusia dengan Rabb-nya. Buku ini cenderung bernuansa Sastra klasik meskipun isinya sendiri banyak menggambarkan konsep Ibn Hazm dalam memegang Dienul Islam ini. Ketinggian nilai bahasanya serta kedalaman maknanya menjadikan buku ini salah satu referensi utama dalam psikologi cinta klasik di eropa.

Menurut Ibnu Hazm, cinta itu sulit diuraikan. Tapi pada orang yang jatuh cinta ada pertanda. Pertama, kecanduan memandang orang yang dikasihi. Kedua, segera menuju ke tempat kekasih berada, sengaja duduk di dekatnya dan mendekatinya. Ketiga, gelisah dan gugup ketika ada seseorang yang mirip dengan orang yang dicintainya. Keempat, kesiapan untuk melakukan hal-hal yang sebelumya enggan dilakukannya.
Adapun yang mencoreng cinta menurut Ibnu Hazm adalah berbuat maksiat dan mengumbar hawa nafsu. 

Diantara tulisan beliau dalam buku tersebut, "Cinta awalnya permainan dan akhirnya kesungguhan. Dia tidak dapat dilukiskan, tetapi harus dialami agar diketahui. Agama tidak menolaknya, syariat pun tidak melarangnya."

Yang ketiga adalah Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah. Ulama besar ahli hukum yang dikenal juga sebagai Anggota 'Penyakit dalam/penyakit jiwa dan hati' ini menjelaskan konsep cinta dalam persfektif tersendiri. Buku Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin yang beliau karang, mencoba untuk memandang dua konsep cinta diatas (cinta hamba kepada Rabb-nya dan cinta hamba sesamanya) dengan pandangan yang lebih berimbang.

Di awal buku, Ibnul Qayyim terlebih dahulu mencoba mendefenisikan cinta itu sendiri. beliau berkata "Karena pengertian manusia tentang istilah cinta ini sangat mendalam dan lebih banyak berhubungan dengan hati mereka, maka tidak heran jika nama-nama lain untuk istilah cinta juga cukup banyak. ini hal yang sangat lumrah dalam suatu yang dipahami secara mendalam atau rentan bagi hati manusia". Menurut dia, ada lebih 50 padanan makna yang sesuai dengan kata Al-Hubb / cinta, diantaranya sebagai berikut: 

Cinta berarti kesucian, kebeningan dan kejernihan. 
Cinta berarti percikan dan riak, seperti riak dan percikan air yang tampak ketika hujan deras turun. Begitu juga dengan cinta seseorang membuat hati beriak ketika teringat dengan sang kekasih. 
Cinta berarti teguh dan tidak berpindah, sebagai-mana teguhnya unta ketika ia duduk diperintah oleh majikannya, sekalipun banyak batu cadas yang melukainya, begitu pula dengan cinta ketika ia telah terbuhul kuat, maka ia tidak akan mau pindah ke pada yang lain. 

Cinta berarti inti, isi dan biji yang dijadikan benih. 
Cinta berarti bejana besar dan berisi penuh yang tidak mungkin lagi diambil dengan sesuatu yang lain, begitu pula dengan cinta ketika ia telah memenuhi hati, ia tidak dapat diisi dengan sesuatu yang lain. 
Cinta juga berarti tungku sebagai tempat pembakaran yang diatasnya diletakkan sesuatu, begitu juga dengan cinta, ia menerima beban yang dipikul atas nama cinta.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab ini juga membagi cinta ke dalam beberapa tingkatan, yang pertama adalah Al-Alaqoh yaitu adanya ikatan dan hubungan seseorang dengan kekasihnya. Yang kedua adalah Ash-shobaabah artinya orang tersebut mencurahkan atau menumpahkan cintanya kepada kekasihnya. Yang ketiga adalah Al-Ghorom, yaitu melekatnya rasa cinta di dalam hatinya sampai-sampai kecintaan tersebut takkan bisa lagi dipisahkan dari dirinya. Yang keempat adalah Al-'Isd yaitu rasa cinta yang berlebihan dan mengandung syahwat. Mencintai lawan jenis karena fisiknya. Yang kelima adalah Asy-syauq yaitu Hati yang serasa berjalan dan terbang menuju yang dikasihinya. Yang keenam At-Tatayum yaitu penghambaan, pemujaan kepada seseorang yang dia cintai dan ini mengandung makna ketundukan, menghinakan dirinya kepada kekasihnya, seperti budak, seorang hamba sahaya yang menundukkan kecintaannya pada tuannya. Dan yang selanjutnya adalah Al-Hullah dan ini adalah puncaknya kecintaan, kecintaan yang paling sempurna dan penghabisannya sehingga tidak tersisa lagi kecintaan di dalam hatinya kecuali kepada Sang Kekasih.

Salah satu kutipan dalam kitab beliau yang terkenal adalah ucapan beliau :
"Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah." 

Konsep cinta versi Ibnul Qayyim sendiri bisa dipakaikan dalam hubungan sesama Makhluk maupun kepada Allah. Tentunya kalau kita gabungkan 3 konsep besar dari ulama ini, kita akan mengambil kesimpulan bahwa cinta sesama manusia itu sendiri merupakan hal yang tidak bisa dihindari, walau begitu seorang mu'min yang ta'at dan cinta kepada Allah akan selalu menyandarkan cintanya hanya kepada Allah, atau dalam bahasa lain bahwa cintanya kepada manusia adalah sebab mencintai Allah juga. 
Konsekuensi ketika seseorang mencintai manusia karena Allah adalah bahwa dalam mencintai manusia tersebut, ia tidak akan melewati pagar-pagar syari'at yang telah ditetapkan oleh Allah. Ia akan selalu menjaga cintanya hanya kepada Allah.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Sahabat Anas bin Malik, Rasulullah menyebutkan ada 3 golongan yang akan merasakan manisnya iman, salah satunya adalah yang mencintai seseorang semata-mata hanya karena Allah. 

Dari hal diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa pembahasan tentang cinta sendiri merupakan hal yang sangat menarik dari dulunya, dan bahasan ini tidak mengenal sekat. Semua orang bahkan para Ulama pun ikut membahasnya. Bahasan cinta bukanlah hal yang tabu karena itu adalah fitrah manusia yang diberikan Allah kedalam Hati mereka. Yang jadi masalah adalah ketika cinta menjauhkan seseorang dari yang Maha Mencinta, yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bagaimana mungkin kita mengaku mencintai seorang kekasih karena Allah lalu kita lakukan larangan yang telah Allah tetapkan bagi kita?


(Semoga tulisan ini dapat bermanfaat).. Barakallah

Jalaliyah dan Jamaliyah

al-Asma al-Husna digolongkan ke dalam dua bagian besar, JALALIYAH dan JAMALIYAH :

JALALIYAH adalah sifat-sifat yang berisi aspek-aspek keagungan dan kebesaran Allah SWT, seperti al-Akbar (Maha Besar), al-Adzhim (Maha Agung), al-Qawiy (Maha Kuat) dan al-Qadir (Maha Kuasa).

Sedangkan JAMALIYAH adalah sifat-sifat yang berisi aspek-aspek keindahan dan kelembutan Allah, seperti al-Rahim (Maha Pengasih), al-Ghafur (Maha Pengampun), al-Lathif (Maha Lembut) dan al-Rahman (Maha Pemurah).

Aspek Jalaliyah adalah sesuatu yang sangat bernilai luar biasa, sangat tinggi, tak terjangkau dan tak ada bandingannya dengan makhluknya. Akan tetapi, di samping itu Allah juga sekaligus indah, dekat, akrab, penuh cinta, dan sifat-sifat kelembutan lainnya yang terangkum dalam aspek Jamaliyah.

Meskipun Allah Maha Penghukum, Maha Penyiksa, Maha Pendendam, Maha Keras, tetapi diri kita luput dari itu. Allah Maha Pencinta. Tidak ada kekerasan dalam cinta. Yang namanya cinta, lapar dan haus tidak terasa. Luka dan duka bukan derita.

Nama-nama keagungan lebih berhubungan dengan ketakterbandingan Allah dan hamba-Nya. Jika kita merasakan diri kita tak terbandingkan dengan Allah SWT, ini tidak salah. Akan tetapi, kalau kita menekankan aspek keserupaan, nama-nama Jamaliyah Allah yang kita tonjolkan, itu juga tidak salah. Sebab, memang apa yang Allah ciptakan di dalam diri kita semuanya itu berasal dari Allah SWT.

Wajar kalau terjadi keserupaan-keserupaan. Allah Maha Pencinta, kita juga idealnya mencintai sesama. Allah Maha Pengasih, kita juga idealnya mengasihi antar sesama. Allah Maha lembut, kita juga harus lembut dengan sesama.

Mengidentifikasikan diri dengan sifat-sifat kelembutan Allah itu satu kenikmatan tersendiri. Semakin kita meniru sifat kelembutan Allah, semakin halus budi pekerti ini.

Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk merasakan kehalusan budi pekerti, cukup kita mencoba melakukan pendekatan diri kepada Allah, dengan cara belajar al-Asma al-Husna.

Contohilah sifat-sifat yang bisa kita contoh, terutama sifat Jamaliyah-Nya. Akhlakul Karimah pasti akan terpelihara, tanpa harus melalui penataran-penataran, cukup dengan kedekatan diri kita kepada Allah SWT.

Nama-nama yang dipandang berbeda satu sama lain itu bukan berarti bahwa Allah kontradiktif, apalagi plin-plan. Dualitas itu ada dalam kaitannya dengan makhluk. Allah sendiri tidak merasakan dirinya memiliki sifat kontradiktif. Hanya kita yang memandang itu kontradiktif.

Bukankah diri kita juga kalau dilihat orang lain seringkali tidak konsisten? Di satu tempat, seseorang bisa tampil sebagai malaikat, di tempat lain tampil sebagai iblis. Satu sisi penyelamat, tetapi sisi lain perusak. Namun demikian itu tetap menjadi bagian diri kita.

Kita keras pada waktu itu, karena keadaan menghendakinya. Tampil halus pada saat ini, karena keadaan menghendakinya. Dua-duanya bagian dari kita. Tidak ada pertentangan. Sifat-sifat Allah pun demikian. Dia adalah utuh pada dirinya sendiri. Itulah Ahadiyat al-Wahid.

Kita bisa mendekati Allah dari kedua aspek itu. Aspek Jalaliyah Allah biasanya kita dekati melalui pendekatan rasional seperti dalam fiqh dan ilmu kalam (teologi). Hasilnya adalah kita membayangkan diri kita sangat jauh dengan Allah. Allah Maha Suci, kita sama sekali sangat kotor.

Waktu usia anak-anak, kita sering membayangkan Allah itu Maha Hebat dan segalanya sehingga tidak ada kemampuan bagi kita untuk mengidentifikasikan diri dengan Allah. Akibatnya, kita sangat takut kepada yang serba maha itu. Takwa pun diartikan takut. Sebagai efeknya, kita beribadah, shalat dan puasa pun dilakukan karena takut dan tunduk. Ada tersimpan beban-beban, terpaksa, dan keharusan.

Ini sangat berbeda kalau kita memakai pendekatan kalbu seperti dalam Tasawuf. Allah seperti ada dalam diri kita (immanent). Allah tidak jauh bahkan ada dalam diri kita. Maka yang timbul bukan takut, tetapi cinta, karena Allah begitu dekat. Maka yang timbul adalah kepasrahan diri dan keterpesonaan.

Shalat dan puasa tidak lagi terasa sebagai tunduk kepada Allah, melainkan bagian dari kecintaan terhadap Allah. Nikmat sekali beribadah kepada Allah kalau kita menggunakan pendekatan Tasawuf.

Kedua pendekatan ini jangan dipertentangkan. Tidak ada Tasawuf tanpa syariat. Seorang hamba Allah tidak akan terpikir untuk mempertentangkannya satu sama lain. Akan tetapi, dia akan selalu mempersatukan. Prinsipnya Preinciple of identity, bukan Preinciple of negation.

Jangan berfikir kontradiktif, melainkan integratif. Orang yang kelebihan beban dalam hidupnya seringkali  berfikir kontraproduktif. Di sinilah pentingnya kajian tasawuf, bisa melembutkan hati yang kasar, meluruskan pikiran yang bengkok, dan memutihkan jiwa yang kotor.



(Semoga tulisan ini dapat bermanfaat).. Barakallah

Sabtu, 28 Januari 2017

Syair yang membuat Al-Imam Ahmad rahimahullah Menangis

إذا ما قال لي ربي اما استحييت تعصيني

Jika Rabb-ku berkata kepadaku, "Apakah engkau tidak malu bermaksiat kepada-Ku?"

وتخفي الذنب عن خلقي وبالعصيان تأتيني

Engkau menutupi dosamu dari makhluk-Ku tapi dengan kemaksiatan engkau mendatangi-Ku

فكيف أجيب يا ويحي ومن ذا سوف يحميني?

Maka bagaimana aku akan menjawabnya? Aduhai, celakalah aku dan siapa yang mampu melindungiku?

أسلي النفس بالآمال من حين الى حيني

Aku terus menghibur jiwaku dengan angan-angan dari waktu ke waktu

وأنسى ما وراء الموت ماذا بعد تكفيني

Dan aku lalai terhadap apa yang akan datang setelah kematian dan apa yang akan datang setelah aku dikafani

كأني قد ضمنت العيش ليس الموت يأتيني

Seolah-olah aku akan hidup selamanya dan kematian tidak akan menghampiriku

وجائت سكرة الموت الشديدة من سيحميني

Dan ketika sakaratul maut yang sangat berat datang menghampiriku, siapakah yang mampu melindungiku?

نظرت الى الوجوه أليس منهم من سيفديني

Aku melihat wajah-wajah manusia, tidakkah ada di antara mereka yang akan menebusku?

سأسأل ما الذي قدمت في دنياي ينجيني

Aku akan ditanya tentang apa yang telah aku persiapkan untuk dapat menyelamatkanku (di hari pembalasan)

فكيف إجابتي من بعد ما فرطت في ديني

Maka bagaimanakah aku dapat menjawabnya setelah aku melupakan agamaku

ويا ويحي ألم أسمع كلام الله يدعوني

Aduhai sungguh celakalah aku, tidakkah aku mendengar firman Allah yang menyeruku?

ألم أسمع لما قد جاء في قاف ويس

Tidakkah aku mendengar apa yang datang kepadaku (dalam surat) Qaaf dan Yasin itu?

ألم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع و الديني

Tidakkah aku mendengar tentang hari kebangkitan, hari dikumpulkannya (manusia), dan hari pembalasan?

ألم أسمع منادي الموت يدعوني يناديني

Tidakkah aku mendengar panggilan kematian yang selalu menyeruku, memanggilku?

فيا رباه عبد تائب من ذا سيؤويني

Maka wahai Rabb-ku, akulah hambamu yang ingin bertaubat, siapakah yang dapat melindungiku?

سوى رب غفور واسع للحق يهديني

Melainkan Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Luas karuniaNya, Dialah yang memberikan hidayah kepadaku

أتيت إليك فارحمني وثقل في موازيني

Aku datang kepada-Mu, maka rahmatilah diriku dan beratkanlah timbangan (kebaikanku)

وخفف في جزائي أنت أرجى من يجازيني

Ringankanlah hukumanku, sesungguhnya hanya Engkaulah yang kuharapkan pahalanya untukku