Rabu, 05 April 2017

Hubbi Sayyidina Muhammad SAW

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..

اللهم صَلِّ عَلىٰ مُحَمَّدْ يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
Ya Allah, limpahkanlah rahmat ta’dhim atas Muhammad saw. Wahai tuhanku, limpahkanlah rahmat ta’dhim dan keselamatan atas Muhammad saw.

فِى حـُبِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ نُوْرٌلِبَدْرِ هـُدًى مُتَمَّمْ
Dalam mencintai junjungan Muhammad saw terdapat cahaya laksana rembulan sebagai petunjuk yang sempurna.

قَلْبِىْ يَحِنُّ اِلَى مُحَمَّدْ مَا زَالَ فِى وَلَهٍ مُتَيَّمْ
Hatiku rindu kepada Muhammad saw selama hatiku berada dalam kegelisahan.

مَالِىْ حـَبِيْبٌ سِوَى مُحَمَّدْ خـَيْرُ الرُّسُلِ طَهَ الْمُكَرَّمْ
Tiada cinta dalam diriku, selain cinta kepada Muhammad saw. Ia paling mulianya utusan yang dimuliakan.

شَوْقُ الْمُحِبِّ اِلَى مُحَمَّدْ أَضْنَاهُ ثُمَّ بِهِ تَأَ لَّمْ
Gelora rindu orang yang mencintai Muhammad saw selalu tertuju padanya lalu karenanya akan mendapat syafa’at.

فِى الْحَشْرِ شَافِعُنَا مُحَمَّدْ مُنْجِى الْخَلَا ئِقِ مِنْ جـَهَنَّمْ
Ketika di padang mahsyar, Muhammad saw adalah penyelamat makhluk dari neraka Jahanam.

مِيْلَادُ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ أُمُّ اْلقُرَى بَلَدٌ مُعَظَّمْ
Tempat lahir junjungan kita Muhammad saw adalah tempat suci di negeri yang dimuliakan.

مَدْفَانُ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ طَيْبُ اْلقُرَى بَلَدٌ مُفَخَّمْ
Tempat di semayamkannya junjungan kita Muhammad saw adalah tempat suci di negeri yang dimuliakan.

أَحـْيَا الدُّجَى زَمَنًا مُحَمَّدْ حـَتَّى اشْتَكَتْ قَدَمٌ مُوَرَّمْ
Muhammad saw adalah penerang zaman kegelapan. Hingga orang-orang yang pemberani dan gagah perkasa mengaduh padanya.

لَمَّا عَلَا وَدَنَا مُحَمَّدْ مَوْلَاهُ سَلَّمَهُ وَكَلَّمْ
Ketika Muhammad saw berada dalam kemuliaan dan kedekatan dengan Tuhannya. Maka Tuhan memberikan rahmat ta’dhim dan menyapanya.

نَدْعُوْكَ أَحْمَدُ يا مُحَمَّدْ يَا سَيِّدَ الرُّسُلِ الْمُقَدَّمْ
Kami memanggilmu dengan sebutan Ahmad wahai Muhammad saw. Wahai pemimpin para utusan yang terdahulu.

إِشْفَعْ اِلَى اللهِ يَا مُحَمَّدْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ لَنَا نُنَعَّمْ
Mohonkanlah syafa’at untuk kami kepada Allah wahai Muhammad saw dihari qiyamat agar kami bisa merasakan nikmat.

نَرْجـُوْ الشَّفَاعَةَ مِنْ مُحَمَّدْ لَوْ كُنَّا نَرْتَكِبُ الْمُحَرَّمْ
Kami berharap syafa’at dari Muhammad saw bila kami melakukan hal-hal yang diharamkan.

مَنْجَا وَمَلْجَأُنَا مُحَمَّدْ يَوْمَ الْهَوَانِ بِهِ تَحَشَّمْ
Tempat aku berharap dan berlindung adalah Muhammad saw, di hari kehinaan di mana orang-orang menjadi malu.

وَالنُّوْرُ جـآءَ بِهِ مُحَمَّدْ وَالْحَقُّ بُيِّنَ إِنْ تَكَلَّمْ
Muhammad saw datang dengan bergelimang cahaya dan kebenaran menjadi nyata untuk diperbincangkan.

أَعْلَى السَّمَاءِ سَمَا مُحَمَّدْ جـِبْرِيْلُ قَالَ لَهُ تَقَدَّمْ
Tingkat yang paling tinggi adalah tingkatan Muhammad saw. Karena Jibril mempersilahkan kepadanya untuk menjadi yang terdepan.

وَالْجُنْدُ حـِيْنَ غَزَا مُحَمَّدْ مِنْهُمْ مَلآ ئِكَةٌ تُسَوَّمْ
Ketika Muhammad saw berperang. Ternyata sebagian pasukannya terdiri dari malaikat yang diperuntukkan berperang.

وَالدِّيْنَ أَظْهَرَهُ مُحَمَّدْ وَاْلكُفْرَ أَبْطَلَهُ فَهَدَّمْ
Muhammad saw menyucikan agama dan Muhammad saw menghapus kekufuran.

أَعْمَارُ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ سِتُّوْنَ جـِيْمٍ مِنْ مُعَوَّمْ
Usia junjungan kita Muhammad saw adalah enam puluhanan tahun.

صَلَّى اْلإِلَهُ عَلَى م مُحَمَّدْ وَاْلأَ لِ كُلِّهِمْ وَسَلَّمْ
Semoga Allah memberikan rahmat ta’dhim kepada Muhammad saw. Serta seluruh keluarganya dan semoga Allah memberi keselamatan.

صَلَّى اْلإِلَهُ عَلَى م مُحَمَّدْ وَالصَّحْبِ كُلِّهِمْ وَسَلَّمْ
Semoga Allah memberi rahmat ta’dhim kepada Muhammad saw. serta seluruh sahabatnya dan  semoga Allah memberi keselamatan.

Senin, 03 April 2017

Perkara yang Mencukupi :

مَنْ أَرَادَ وَلِيًّا فاللهُ يَكْفِيْهِ

وَمَنْ أَرَادَ قُدْوَةً فَالرَّسُوْلُ يَكْفِيْه

وَمَنْ أَرَادَ هُدًى فَالْقُرْآنُ يَكْفِيْهِ

وَمَنْ أَرَادَ مَوْعِظَةً فَالْمَوْتُ يَكْفِيْهِ

وَمَنْ لاَ يَكْفِيْهِ ذَلِكَ فَالنَّارُ يَكْفِيْهِ

------------------------------------------------------------------

Barangsiapa yang menginginkan pelindung, maka Allah cukup baginya.

Barangsiapa yang menginginkan teladan, maka Rasulullah cukup baginya.

Barangsiapa yang menginginkan pedoman hidup, maka al-Qur’an cukup baginya.

Barangsiapa yang menginginkan peringatan maka kematian cukup baginya.

Dan barangsiapa tidak cukup dengan semua itu, maka neraka cukup baginya.

Sabtu, 01 April 2017

Jangan Pandang Manusia (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani) | Suluk

Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata :

Dunia adalah penghalang dari akhirat, dan akhirat adalah penghalang dari Tuhan Pengatur dunia dan akhirat. Setiap makhluk adalah hijab dari Sang Pencipta Azza wa Jalla. Sekalipun engkau berdiri bersama-Nya, Dia tetap terhijab (tersekat) denganmu. Jangan menoleh pada manusia, juga pada dunia, dan apapun selain Al-Haqq Azza wa Jalla sebelum engkau sampai ke pintu Al-Haqq Azza wa Jalla dengan kaki nuranimu dan kesahihan zuhudmu akan selain-Nya, sambil berlepas dari segala hal, bingung di dalamnya, meminta pertolongan dan sokongan pada-Nya, seraya memperhatikan ketetapan terdahulu (preseden) dan ilmu-Nya. Jika memang hati dan nurani telah benar-benar sampai dan masuk menghadap-Nya, lalu Dia menghampirimu dan mendekatkanmu pada-Nya sambil memberi ucapan selamat, kemudian memberi kuasa padamu untuk menguasai hati manusia, memerikan otoritas perintah-Nya padamu atas mereka (hati manusia), dan menjadikanmu sebagai tabib penyembuh mereka, maka saat itulah engkau boleh menengok pada manusia dan dunia. Perhatianmu pada mereka merupakan nikmat tersendiri bagi mereka.

Dalam posisi sifat seperti ini, memungut harta dunia dari tangan mereka, lalu menyerahkannya pada orang-orang fakir serta mengambil penuh bagian rezekimu merupakan ibadah, ketaatan, dan keselamatan. Barangsiapa memungut dunia dengan posisi sifat seperti ini, maka hal itu tidak memberinya mudarat, bahkan sebaliknya malah menyelamatkan dan membersihkannya dari daki kotoran-kotorannya.

Barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan, maka ia harus mencurahkan diri dan hartanya untuk Al-Haqq Azza wa Jalla dan harus keluar lepas dari ikatan manusia dan dunia dengan segenap hatinya, sebagaimana keluarnya rambut dari adonan dan susu. Begitu pula ia harus lepas dari akhirat, dan apa saja selain Al-Haqq Azza wa Jalla. Ketika itulah, di hadapan-Nya setiap hak akan diberikan pada yang berhak. Engkau boleh makan bagian rezekimu dari dunia dan akhirat sambil duduk di pintu-Nya, sementara keduanya berdiri melayani.

Kaum wali tahu bahwa dunia telah ditentukan bagiannya, sehingga mereka pun enggan mencarinya. Mereka tahu bahwa derajat akhirat dan kenikmatan surga telah ditentukan bagiannya, maka mereka pun tidak mau menuntutnya demi meraihnya. Mereka tidak menginginkan apa-apa selain Wajah Al-Haqq Azza wa Jalla. Jika masuk surga, mereka tidak akan membuka matanya, hingga mereka melihat cahaya Wajah Al-Haqq Azza wa Jalla.

Gemarilah menyepi (tajrid) dan menyendiri (tafrid). Barangsiapa yang hatinya sepi (kosong melompong) dari (kaitan) manusia dan sarana duniawi (al-asbab), maka ia tetap tidak akan bisa menempuh kesungguhan para nabi, kaum shiddiqin, dan kaum shalih, hingga ia puas hati menerima sedikit dunia dan menyerahkan sebagian besarnya pada tangan takdir. Jangan menuntut bagian yang melimpah, niscaya engkau akan binasa. Jika memang datang harta yang melimpah dari Al-Haqq Azza wa Jalla tanpa engkau berikhtiar mencarinya, maka engkau benar-benar beruntung.

(*Sumber : Rahasia Mencintai Allah, Jalan Sejati Menuju Sang Khalik, Syaikh Abdul Qadir Jailani, buku ke-1 dari Buku Trilogi Rahasia Sufi Agung, 2011)

Halangan Rintangan dalam Suluk : Condong kepada Makhluk | Penghalang Suluk : Makhluk

Ada sejumlah rintangan (dalam suluk), yang terbesar di antaranya adalah bergantung pada makhluk dan merasa condong kepada mereka.
[ Syaikh Abdul Khaliq al-Syabrawi ]

Bagaimana orang yang bergaul dan melakukan satu sama lain, yaitu berbincang, bersenda gurau, tertawa, dan sebagainya, dapat berharap tiba di tempat yang dituju?

Jika engkau mengharapkan derajat mulia, tinggalkan makhluk dan PUSATKAN PERHATIAN kepada ALLAH.

Jika engkau tidak sejalan dengan apa yang baru saja dijelaskan, maka waktumu akan sia-sia dan engkau tidak akan mencapai apa yang engkau inginkan.

Bersungguh-sungguhlah dan tekunlah. Jangan isi dirimu dengan hal-hal yang sepele dan ucapan yang tak berfaedah.

(*Sumber : The Degrees of the Self/ Maratib al-Nafs, Syaikh Abdul Khaliq al-Syabrawi)

Perkataan Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi di bawah ini baik untuk dijadikan pegangan :

Terpenting, dari apa yang engkau butuhkan adalah akhlak mulia, karakter dan perilaku yang tepat benar; kau harus mengidentifikasi bagian dirimu yang buruk dan menghilangkan keburukan itu. Hubunganmu dengan siapapun harus berdasarkan akhlak mulia yang disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tipe kebutuhan tiap orang.

Barangsiapa yang menolak satu poin dari akhlak mulia, itu berarti dia masih memiliki karakter buruk. Setiap manusia diciptakan berbeda satu dengan lainnya. Level tiap orang berbeda. Karakter dan perilaku baik juga memiliki level yang berbeda. Perilaku bukanlah sebuah bentuk. Bukan juga dijalankan dalam cara yang sama pada setiap keadaan kepada setiap orang. Berperilakulah sesuai situasi dan kondisi, dan sesuai tipe kebutuhan orang dalam hubunganmu dengan seseorang atau kelompok. Perilaku baik itu adalah jika perilaku itu membawa kepada jalan keselamatan, kebenaran, kenyamanan, kedamaian, ketenangan, memberikan perlindungan, tiada menyakitkan lahir bathin dan tiada menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain, bagi diri pribadi, dan sebisa mungkin bagi banyak orang, dimana dilakukan semata mengharapkan keridhoan Allah.

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat shaleh maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang zalim. (QS.42:40)

Tunjukkan cinta, kasih sayang, kepekaan/ empati/ simpati, kemurahan hati, dan perlindungan kepada orang-orang yang berada dalam tanggunganmu. Jika engkau mengharapkan cinta kasih sayang Allah dan perlindungan-Nya, ingatlah bahwa sepenuhnya engkau bergantung kepada-Nya Al-Ahad, Tuhan dan Pemilik jagat raya dan seisinya.

Uzlah Hati

Ibnu Athaillah r.a mengingatkan bahwa yang dikehendaki adalah sebagian uzlah, bukan menjadikan uzlah sebagai jalan hidup sehingga seseorang menghindari masyarakat dan menjauhkan diri dari dunia. Sebab, fitrah manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial.

Tidak ada yang bisa memberikan manfaat kepada hati seperti uzlah, karena uzlah dapat membersihkan hati dari kelalaian. Uzlah bisa dilakukan dengan melibatkan hati dan tubuh, yaitu dengan menjauh dari makhluk.

Uzlah bisa dilakukan pula hanya dengan hati, yaitu tetap bergaul  dengan manusia sementara hati tetap bersama Allah. Karena itu ada ungkapan berbunyi : Hendaklah lahiriahmu bersama makhluk, tetapi jiwamu bersama Allah.

Uzlah yang dimaksud oleh Ibnu Athaillah r.a adalah uzlah dalam pengertian yang pertama. Sebab, hati biasanya hanya bisa menyendiri jika pemiliknya menjauh atau berada jauh dari makhluk.

Manfaat uzlah bagi hati dengan menjauh dari manusia untuk bertafakur adalah seperti manfaat diet bagi kesehatan tubuh orang yang sakit. Keadaan hati juga seperti itu. Hati akan menjadi sehat dan bagus jika sesekali ia menjalani diet dengan menjauh dari makhluk sehingga terbebas dari lintasan pikiran, bisikan, dan kelalaian yang menguasai dirinya dan yang bisa menjadi sebab kematian hatinya. Hati menjadi lapang dan tubuh menjadi lebih tenang. Sebab, pergaulan dengan banyak orang bisa jadi akan membuat kita merasa lelah, bosan, penat, dan sering kali pikiran kita pun lelah karena banyak memperhatikan urusan manusia. Tubuh juga kerap merasa penat karena banyak berusaha memenuhi kebutuhan diri dan keinginan sebagian mereka. Meskipun apa yang kita lakukan untuk orang lain akan mendatangkan pahala untuk kita, tetapi kita juga kehilangan sesuatu yang lebih agung dan penting, yaitu menyatunya hati di hadapan Tuhan.

Selama uzlah, hamba bisa membaca kitabullah, memikirkan untuk apakah selama ini usianya dihabiskan, merenungkan kelalaiannya kepada Tuhan, serta memikirkan seperti apakah tempat kembalinya di hari akhir. Jadi, uzlah tidak dijalani dengan melakukan sesuatu yang terlarang, misalnya merenungkan sesuatu yang haram atau membaca bacaan yang penuh dengan tipudaya dan khurafat.

Rasulullah Saw sendiri memberi kita contoh betapa beliau suka berkhalwat dan bertafakur demi mendapatkan pemahaman mengenai kaumnya dan juga alam semesta pada masanya. Secara lebih khusus, beliau banyak menyendiri menjelang Allah mengangkatnya sebagai Nabi dan Rasul. Beliau beribadah selama beberapa malam di Gua Hira hingga akhirnya turun wahyu dari Allah. Rasulullah Saw masih suka berkhalwat sesudah beliau diangkat sebagai nabi, yaitu ketika beliau diperintah mendirikan shalat malam.

(*Sumber : Taj al-Arus al-Hawi li Tahdzib al-Nufus, 2011; (Tajul Arus, 2013)

Uzlah bag 2

Hal yang mendorong kepada UZLAH ialah karena manusia itu kebanyakan dapat merusak ibadah yang engkau telah hasilkan dengan ajakan-ajakan yang menarik kepada riya dan hiasan jika tidak ada perlindungan dari Allah SWT.

Diceritakan bahwa Harim Ibnu Hayan berkata kepada Uwais Al-Qarni : Ya Uwais, silahkan engkau datang bertamu dan berjumpa.
Jawab Uwais : Aku sudah bersilaturahmi denganmu dengan jalan yang lebih bermanfaat dari keduanya itu, yaitu doa dari jauh. Karena bertamu dan berjumpa itu melahirkan hiasan dan riya.

Jika seseorang tidak ingin ada hubungan dengan orang lain, maka jangan mencampuri salah satu urusan mereka apapun juga. Mulai dari urusan agama atau dunia.

Bergaul dengan masyarakat memerlukan dua perkara penting :

1] Kesabaran yang terus menerus atas segala penderitaan yang didapat dari pergaulan.

2] Hendaknya dapat menyendiri dalam hati walaupun jasadnya bergaul dengan orang-orang lain :

Jika mereka bicara dengan baik, hendaknya dibalas dengan setimpal. Jika mereka bertamu hendaknya dihormati menurut tingkatan dan disyukuri. Jika mereka diam dan berpaling, maka ambil faedah dari diamnya mereka. Jika mereka mengerjakan yang haq dan kebaikan, maka bantu mereka. Jika mereka mengerjakan hal-hal yang tidak berfaedah atau melakukan kejahatan,  jauhi mereka dan larang mereka jika sekiranya mereka menerima. Tunaikan hak-hak yang lazim untuk tetamu dan untuk berkunjung, tanpa meminta dan mengharapkan balasan dari mereka. Dan jangan memperlihatkan muka kecut terhadap mereka. Jika dapat, perbanyaklah menolong mereka. Jika mereka memberi hendaknya jangan bernafsu menerimanya. Dan hendaklah kuat menanggung akibat dari sikap mereka. Dan selalu menampakkan muka manis terhadap mereka dan menyembunyikan kebutuhan diri dari mereka.

Orang-orang yang UZLAH mesti tetap bergaul dalam hal-hal kebaikan dan menjauhi dalam hal-hal yang lain karena di dalamnya terkandung beberapa bahaya.

Yang memudahkan untuk ber-uzlah itu ada tiga macam :

1] Menghabiskan waktu dalam beribadah.

Sehingga engkau tidak menjadi asyik dengan makhluk di mana hal itu pertanda engkau pailit.

Jika engkau asyik beribadah sebagaimana mestinya, tentu akan merasakan manisnya ber-munajat kepada Allah. Dan engkau  akan merasa senang dan gembira sekali dengan Al-Qur’an atau kitab-kitab agama lainnya. Sehingga kesibukan itu akan memalingkan engkau dari makhluk.

2] Memutuskan hubungan dari manusia sama sekali.

Dalam arti kata, engkau tidak terikat. Karena setiap orang yang tidak engkau harapkan manfaat daripadanya dan tidak khawatir apa-apa olehnya, maka ada dan tiadanya sama saja.

3] Mengamat-amati akan bahaya yang disebabkan oleh makhluk.

Bahaya seperti pergunjingan, hasud, dengki, dan sebagainya.

Bila bertamu kepada saudara-saudara seagama dan menghubungi sahabat-sahabat untuk saling bertemu dan saling memperingati, berlaku dua syarat :

1] Jangan berlebih-lebihan dan jangan sering-sering.

Rasulullah Saw bersabda: Bertamulah engkau pada waktu tertentu saja, nanti akan bertambah cinta.

2] Dalam bertamu perlu mematuhi yang haq. Dengan menjauhi riya, atau kelakuan yang dibuat-buat, atau berkata yang tidak karuan, bergunjing, dan sebagainya.

(*Sumber : Minhajul Abidin, Imam Al-Ghazali; Penerjemah : K.H. Abdullah bin Nuh)

Uzlah bag 1

UZLAH : Menyendiri, bukan semata-mata menjauhkan diri dan tempat. Tetapi menyendiri dalam hati walaupun jasadnya bergaul dengan orang lain. Uzlah dari manusia adalah dengan jalan tidak mencampuri, tidak ikut dan tidak memasuki urusan-urusan mereka. Adapun dapat bersama mereka dalam mengerjakan shalat berjamaah dan memperbanyak syiar Islam.

Ibrahim bin Adham mengatakan : Menyendirilah engkau sambil berkumpul. Sambil merasa tenteram dengan Tuhanmu. Namun merasa kesepian dengan manusia.

Karna sebagian besar dari makhluk (manusia) itu membimbangkanmu untuk beribadah. Bahkan terkadang menghalangimu dan membawamu ke jalan kejahatan dan kebinasaan. Karena kebanyakan mereka itu tidak mengetahui hak-hak keTuhanan, tapi hanya mengetahui hak-hak kehambaan. Dan hanya mengetahui lahirnya kehidupan dunia saja. Untuk akhirat, mereka lalai tidak memikirkannya.

Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Amr bin al’Ash r.a, beliau berkata :
Di kala kami berkumpul di hadapan Rasulullah Saw dan diceritakan tentang adanya godaan-godaan (fitnah), maka Nabi Saw bersabda : Di mana kamu telah melihat manusia merusak janjinya, dan sedikit amanatnya. Dan mereka sudah menjadi demikian. Nabi Saw kemudian memberi isyarat seraya menjalinkan jari-jari tangannya, sebagai isyarat campur aduknya kebaikan dan kejahatan).

Aku bertanya : Jika sudah demikian, kami harus bagaimana ya Rasulullah?

Jawab Rasulullah : Maka kamu harus menetap di rumah. Kuasai lidahmu. Ambillah apa yang kau ketahui baik, dan tinggalkan apa yang tidak engkau kenal. Dan perbaiki khusus dirimu serta tinggalkan urusan umum. (Hadits shahih)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw telah mengatakan tentang zaman fitnah.

Ibnu Mas’ud bertanya kepada Rasulullah Saw : Apakah itu?

Sabda Rasulullah Saw : ialah bila seseorang sudah tidak merasa aman dari kejahatan temannya sendiri, apalagi dari orang lain.

Dari Sofyan bin ‘Uyainah yang mengatakan sebagai berikut : Saya telah katakan kepada Tsauri : ‘Berilah saya wasiat.

Jawabnya : Kurangi pergaulanmu dengan orang lain!

Kata saya : Bukankah telah diterangkan dalam hadits bahwa kita disuruh banyak berkenalan seperti bunyi hadits yang diterangkan Hakim dari Sayyidina Anas r.a : Perbanyaklah berkenalan dengan orang-orang mukmin, karena bagi tiap mukmin ada syafaat nanti di hari Qiyamah.

Jawab Ats-Tsaury : Ya, tapi engkau tidak akan menemui kekecewaan kecuali dari orang-orang yang engkau kenal.

Kata Ibnu Uyainah bahwa pada pintu rumah Ats-Tsaury ada tulisan : Terima kasih, semoga Allah membalas kebaikan kepada orang-orang yang tidak kami kenal. Tapi terima kasih ini tidak kami ucapkan pada teman-teman kami. Lantaran gangguan-gangguan itu sering datangnya dari mereka.

Dari Abu Ubaidah : Aku belum pernah melihat seorang yang bijaksana melainkan pada akhir katanya mengucapkan; Jika kau menyukai agar dirimu tidak terkenal di antara manusia, maka kau akan mendapat kedudukan yang tinggi dari Allah.