Senin, 27 Februari 2017

Cinta

KETIKA ULAMA BICARA CINTA

Paling tidak, ada 3 tokoh besar Islam lintas zaman yang membuat karangan tentang cinta menurut persfektif masing-masing. Yang pertama adalah Imam Al-Ghazali. Dalam kitab Al-Mahabbahnya, beliau mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki level yang tinggi.

"(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya." (QS. 5: 54).
Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah).

Yang kedua adalah Imam Ibn Hazm Al-Andalusi Az-Zhohiri. Buku Tauqul Hamamah -nya (Thauq al- Hamamah fî al-Ulfah wa al-Ulâf) menyorot tentang cinta antara manusia dengan pandangan yang realistis. Sangat kontras dengan Al-Mahabbah versi Imam Al-Ghazali yang lebih menyorot konsep cinta manusia dengan Rabb-nya. Buku ini cenderung bernuansa Sastra klasik meskipun isinya sendiri banyak menggambarkan konsep Ibn Hazm dalam memegang Dienul Islam ini. Ketinggian nilai bahasanya serta kedalaman maknanya menjadikan buku ini salah satu referensi utama dalam psikologi cinta klasik di eropa.

Menurut Ibnu Hazm, cinta itu sulit diuraikan. Tapi pada orang yang jatuh cinta ada pertanda. Pertama, kecanduan memandang orang yang dikasihi. Kedua, segera menuju ke tempat kekasih berada, sengaja duduk di dekatnya dan mendekatinya. Ketiga, gelisah dan gugup ketika ada seseorang yang mirip dengan orang yang dicintainya. Keempat, kesiapan untuk melakukan hal-hal yang sebelumya enggan dilakukannya.
Adapun yang mencoreng cinta menurut Ibnu Hazm adalah berbuat maksiat dan mengumbar hawa nafsu. 

Diantara tulisan beliau dalam buku tersebut, "Cinta awalnya permainan dan akhirnya kesungguhan. Dia tidak dapat dilukiskan, tetapi harus dialami agar diketahui. Agama tidak menolaknya, syariat pun tidak melarangnya."

Yang ketiga adalah Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah. Ulama besar ahli hukum yang dikenal juga sebagai Anggota 'Penyakit dalam/penyakit jiwa dan hati' ini menjelaskan konsep cinta dalam persfektif tersendiri. Buku Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin yang beliau karang, mencoba untuk memandang dua konsep cinta diatas (cinta hamba kepada Rabb-nya dan cinta hamba sesamanya) dengan pandangan yang lebih berimbang.

Di awal buku, Ibnul Qayyim terlebih dahulu mencoba mendefenisikan cinta itu sendiri. beliau berkata "Karena pengertian manusia tentang istilah cinta ini sangat mendalam dan lebih banyak berhubungan dengan hati mereka, maka tidak heran jika nama-nama lain untuk istilah cinta juga cukup banyak. ini hal yang sangat lumrah dalam suatu yang dipahami secara mendalam atau rentan bagi hati manusia". Menurut dia, ada lebih 50 padanan makna yang sesuai dengan kata Al-Hubb / cinta, diantaranya sebagai berikut: 

Cinta berarti kesucian, kebeningan dan kejernihan. 
Cinta berarti percikan dan riak, seperti riak dan percikan air yang tampak ketika hujan deras turun. Begitu juga dengan cinta seseorang membuat hati beriak ketika teringat dengan sang kekasih. 
Cinta berarti teguh dan tidak berpindah, sebagai-mana teguhnya unta ketika ia duduk diperintah oleh majikannya, sekalipun banyak batu cadas yang melukainya, begitu pula dengan cinta ketika ia telah terbuhul kuat, maka ia tidak akan mau pindah ke pada yang lain. 

Cinta berarti inti, isi dan biji yang dijadikan benih. 
Cinta berarti bejana besar dan berisi penuh yang tidak mungkin lagi diambil dengan sesuatu yang lain, begitu pula dengan cinta ketika ia telah memenuhi hati, ia tidak dapat diisi dengan sesuatu yang lain. 
Cinta juga berarti tungku sebagai tempat pembakaran yang diatasnya diletakkan sesuatu, begitu juga dengan cinta, ia menerima beban yang dipikul atas nama cinta.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab ini juga membagi cinta ke dalam beberapa tingkatan, yang pertama adalah Al-Alaqoh yaitu adanya ikatan dan hubungan seseorang dengan kekasihnya. Yang kedua adalah Ash-shobaabah artinya orang tersebut mencurahkan atau menumpahkan cintanya kepada kekasihnya. Yang ketiga adalah Al-Ghorom, yaitu melekatnya rasa cinta di dalam hatinya sampai-sampai kecintaan tersebut takkan bisa lagi dipisahkan dari dirinya. Yang keempat adalah Al-'Isd yaitu rasa cinta yang berlebihan dan mengandung syahwat. Mencintai lawan jenis karena fisiknya. Yang kelima adalah Asy-syauq yaitu Hati yang serasa berjalan dan terbang menuju yang dikasihinya. Yang keenam At-Tatayum yaitu penghambaan, pemujaan kepada seseorang yang dia cintai dan ini mengandung makna ketundukan, menghinakan dirinya kepada kekasihnya, seperti budak, seorang hamba sahaya yang menundukkan kecintaannya pada tuannya. Dan yang selanjutnya adalah Al-Hullah dan ini adalah puncaknya kecintaan, kecintaan yang paling sempurna dan penghabisannya sehingga tidak tersisa lagi kecintaan di dalam hatinya kecuali kepada Sang Kekasih.

Salah satu kutipan dalam kitab beliau yang terkenal adalah ucapan beliau :
"Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah." 

Konsep cinta versi Ibnul Qayyim sendiri bisa dipakaikan dalam hubungan sesama Makhluk maupun kepada Allah. Tentunya kalau kita gabungkan 3 konsep besar dari ulama ini, kita akan mengambil kesimpulan bahwa cinta sesama manusia itu sendiri merupakan hal yang tidak bisa dihindari, walau begitu seorang mu'min yang ta'at dan cinta kepada Allah akan selalu menyandarkan cintanya hanya kepada Allah, atau dalam bahasa lain bahwa cintanya kepada manusia adalah sebab mencintai Allah juga. 
Konsekuensi ketika seseorang mencintai manusia karena Allah adalah bahwa dalam mencintai manusia tersebut, ia tidak akan melewati pagar-pagar syari'at yang telah ditetapkan oleh Allah. Ia akan selalu menjaga cintanya hanya kepada Allah.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Sahabat Anas bin Malik, Rasulullah menyebutkan ada 3 golongan yang akan merasakan manisnya iman, salah satunya adalah yang mencintai seseorang semata-mata hanya karena Allah. 

Dari hal diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa pembahasan tentang cinta sendiri merupakan hal yang sangat menarik dari dulunya, dan bahasan ini tidak mengenal sekat. Semua orang bahkan para Ulama pun ikut membahasnya. Bahasan cinta bukanlah hal yang tabu karena itu adalah fitrah manusia yang diberikan Allah kedalam Hati mereka. Yang jadi masalah adalah ketika cinta menjauhkan seseorang dari yang Maha Mencinta, yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bagaimana mungkin kita mengaku mencintai seorang kekasih karena Allah lalu kita lakukan larangan yang telah Allah tetapkan bagi kita?


(Semoga tulisan ini dapat bermanfaat).. Barakallah

Jalaliyah dan Jamaliyah

al-Asma al-Husna digolongkan ke dalam dua bagian besar, JALALIYAH dan JAMALIYAH :

JALALIYAH adalah sifat-sifat yang berisi aspek-aspek keagungan dan kebesaran Allah SWT, seperti al-Akbar (Maha Besar), al-Adzhim (Maha Agung), al-Qawiy (Maha Kuat) dan al-Qadir (Maha Kuasa).

Sedangkan JAMALIYAH adalah sifat-sifat yang berisi aspek-aspek keindahan dan kelembutan Allah, seperti al-Rahim (Maha Pengasih), al-Ghafur (Maha Pengampun), al-Lathif (Maha Lembut) dan al-Rahman (Maha Pemurah).

Aspek Jalaliyah adalah sesuatu yang sangat bernilai luar biasa, sangat tinggi, tak terjangkau dan tak ada bandingannya dengan makhluknya. Akan tetapi, di samping itu Allah juga sekaligus indah, dekat, akrab, penuh cinta, dan sifat-sifat kelembutan lainnya yang terangkum dalam aspek Jamaliyah.

Meskipun Allah Maha Penghukum, Maha Penyiksa, Maha Pendendam, Maha Keras, tetapi diri kita luput dari itu. Allah Maha Pencinta. Tidak ada kekerasan dalam cinta. Yang namanya cinta, lapar dan haus tidak terasa. Luka dan duka bukan derita.

Nama-nama keagungan lebih berhubungan dengan ketakterbandingan Allah dan hamba-Nya. Jika kita merasakan diri kita tak terbandingkan dengan Allah SWT, ini tidak salah. Akan tetapi, kalau kita menekankan aspek keserupaan, nama-nama Jamaliyah Allah yang kita tonjolkan, itu juga tidak salah. Sebab, memang apa yang Allah ciptakan di dalam diri kita semuanya itu berasal dari Allah SWT.

Wajar kalau terjadi keserupaan-keserupaan. Allah Maha Pencinta, kita juga idealnya mencintai sesama. Allah Maha Pengasih, kita juga idealnya mengasihi antar sesama. Allah Maha lembut, kita juga harus lembut dengan sesama.

Mengidentifikasikan diri dengan sifat-sifat kelembutan Allah itu satu kenikmatan tersendiri. Semakin kita meniru sifat kelembutan Allah, semakin halus budi pekerti ini.

Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk merasakan kehalusan budi pekerti, cukup kita mencoba melakukan pendekatan diri kepada Allah, dengan cara belajar al-Asma al-Husna.

Contohilah sifat-sifat yang bisa kita contoh, terutama sifat Jamaliyah-Nya. Akhlakul Karimah pasti akan terpelihara, tanpa harus melalui penataran-penataran, cukup dengan kedekatan diri kita kepada Allah SWT.

Nama-nama yang dipandang berbeda satu sama lain itu bukan berarti bahwa Allah kontradiktif, apalagi plin-plan. Dualitas itu ada dalam kaitannya dengan makhluk. Allah sendiri tidak merasakan dirinya memiliki sifat kontradiktif. Hanya kita yang memandang itu kontradiktif.

Bukankah diri kita juga kalau dilihat orang lain seringkali tidak konsisten? Di satu tempat, seseorang bisa tampil sebagai malaikat, di tempat lain tampil sebagai iblis. Satu sisi penyelamat, tetapi sisi lain perusak. Namun demikian itu tetap menjadi bagian diri kita.

Kita keras pada waktu itu, karena keadaan menghendakinya. Tampil halus pada saat ini, karena keadaan menghendakinya. Dua-duanya bagian dari kita. Tidak ada pertentangan. Sifat-sifat Allah pun demikian. Dia adalah utuh pada dirinya sendiri. Itulah Ahadiyat al-Wahid.

Kita bisa mendekati Allah dari kedua aspek itu. Aspek Jalaliyah Allah biasanya kita dekati melalui pendekatan rasional seperti dalam fiqh dan ilmu kalam (teologi). Hasilnya adalah kita membayangkan diri kita sangat jauh dengan Allah. Allah Maha Suci, kita sama sekali sangat kotor.

Waktu usia anak-anak, kita sering membayangkan Allah itu Maha Hebat dan segalanya sehingga tidak ada kemampuan bagi kita untuk mengidentifikasikan diri dengan Allah. Akibatnya, kita sangat takut kepada yang serba maha itu. Takwa pun diartikan takut. Sebagai efeknya, kita beribadah, shalat dan puasa pun dilakukan karena takut dan tunduk. Ada tersimpan beban-beban, terpaksa, dan keharusan.

Ini sangat berbeda kalau kita memakai pendekatan kalbu seperti dalam Tasawuf. Allah seperti ada dalam diri kita (immanent). Allah tidak jauh bahkan ada dalam diri kita. Maka yang timbul bukan takut, tetapi cinta, karena Allah begitu dekat. Maka yang timbul adalah kepasrahan diri dan keterpesonaan.

Shalat dan puasa tidak lagi terasa sebagai tunduk kepada Allah, melainkan bagian dari kecintaan terhadap Allah. Nikmat sekali beribadah kepada Allah kalau kita menggunakan pendekatan Tasawuf.

Kedua pendekatan ini jangan dipertentangkan. Tidak ada Tasawuf tanpa syariat. Seorang hamba Allah tidak akan terpikir untuk mempertentangkannya satu sama lain. Akan tetapi, dia akan selalu mempersatukan. Prinsipnya Preinciple of identity, bukan Preinciple of negation.

Jangan berfikir kontradiktif, melainkan integratif. Orang yang kelebihan beban dalam hidupnya seringkali  berfikir kontraproduktif. Di sinilah pentingnya kajian tasawuf, bisa melembutkan hati yang kasar, meluruskan pikiran yang bengkok, dan memutihkan jiwa yang kotor.



(Semoga tulisan ini dapat bermanfaat).. Barakallah